Banjir, Sejenak Aku Termenung1 min read

By

Sejenak aku termenung, lihat jendela, di luar mendung suasana pasar Depok Jaya

“Hujan sehari-hari” bukan lagi ungkapan baru untuk bulan Januari

Mungkin saja sejak Thales berusaha mencari awal mula dari dunia ini

Air peradaban mengalir dari barat ke timur

Pranata Mangsa kerap dibentuk oleh para leluhur

Petani marah di bulan April “TERLALU KERING!”

Di Januari mereka dibuat pusing, bukan karena kebanyakan terkena hujan

Mereka hanya kebingungan, “DILUAR DERAS KOK KANTONG SAYA TETAP KERING?”

Maklum, petani juga manusia, tapi kasian, hujan tidak hujan nasib mereka stagnan

Kata mereka “Kami SETARA, rugi harus ditanggung bersama!”

Ibu Rumah Tangga ikutan gaduh bersama si Tukang Sayur

“Semua naik! Harga naik! Air meluap! Banjir! Naik! Tensi darah saya juga naik”

“Ada kok yang turun, e…Tika! Akal nya si Budi juga menurun”

“Padahal Budi anaknya baik, walaupun licik”

“Tika masih terlalu kecil, KKM nya terlalu tinggi”

“Tenang…Budi kan banyak akalnya, Tika juga masih bisa diajari kok”

“PEMERINTAH GIMANA SIH? BANJIR GIMANA INI? ANAK-ANAK KITA? BIBIT BANGSA?”

“KELALIMAN PENGUASA!”

Saya jadi ikut naik, iya naik pitam, pengen ikutan, dari belakang teman menepak pundak
“Lur, bersih-bersih yuk, kontrakan kotor banget”

“Diluar juga kotor banget, sekalian aja kerja bakti”

“Semua orang kerja, tapi gak semua orang berbakti”

“Masih terlalu cepat berkata demikian”

“Ini fakta, ditengah naik turunnya segala hal, Idealisme ku tetap, dari dulu manusia sudah susah payah berpikir”

“Jadi? Gimana? Jadi bersih-bersih gak?”

“Bentar deh, kaki ku tiba-tiba terkilir”

“HALAH”

Ternyata, kita semua sama.