Islam Menagajak Untuk Menang Lur

Islam Mengajak Untuk Menang3 min read

By

Salam srupuut!

Bagaimana kabarnya lur? yang pasti sehat walafiyat yah, Amin. Dalam kurun satu tahun ini kita disuguhkan dalam panggung politik yang sangat menguras tenaga sehingga banyak energi kita keluarkan untuk adu argument atau perang urat saraf untuk mengeluarkan pendapat masing-masing dari kejadian-kejadian yang ada selama perhelatan Pemilu 2019 ini, banyak pula dari satu kejadian suhu pertemanan dan tali sillaturahim antar keluarga menjadi retak dan tidak harmonis dikarenakan beda pilihan selera politik. Bagaimana tidak jika kita membicarakan dalam setiap obrolan warung kopi dan beranda media sosial tentang hiruk pikuk kontestasi politik yang acapkali membawa isu sara kepada haluan politik praktis.

Jika pemerintah hari ini menegaskan bahwa panggung politik merupakan satu kemeriahan meskinya kita sambut dengan suka cita dalam menyambut pesta demokrasi yang dihelat lima tahun sekali, malah-malah ini jadi ajang kebencian yang masif yang sengaja dimainkan untuk kepentingan politik tertentu. Harusnya ada Badan Pembina Ideologi Pancasila yang dihuni para negarawan yang senior menjadikan pemilu kita menjadi ajang suka cita sesama sesuai dengan yang dikandung oleh Pancasila 1945 bahwa perbedaan dan musyawarah yang ada dikedaulatan rakyat menentukan nasib bangsa Indonesia kedepan dengan penuh kepastian dan kegembiraan. Seusai itu kita dapat membenahi kekurangan dalam hidup berbangsa dalam amanah konsistusi yang dijalankan oleh para penyelanggara negara, rakyat menjadi garda terdepan untuk bisa merumuskan keyakinan berbangsa dan menentukan selera pemimpin yang dibutuhkan rakyat. Ada sistem yang membuat rakyat rugi dalam menghadapi pesta demokrasi, yaitu melulu soal calon pemimpin yang akan duduk di legislatif atau di eksekutif senantiasa butuh merogoh kocek yang dalam untuk menjadi seorang pemimpin. Ingat ngga lur…? Ketika2004 yang lalu kita pertama kali menghadapi pesta demokrasi pemilihan legislatif dipilih langsung oleh rakyat, berapa orang yang gila gara-gara tidak bisa mengembalikan materi yang dikeluarkan selama kampanye, ini belum selesai permaslahannya sampai saat ini. Bukan hanya pada kontestan perseorangan, akan tetapi partai politikpun sama harus banyak mengeluarkan materi yang cukup banyak untuk biaya kampanye di seluruh kota dan kabupaten se-Indonesia. Persoalan biaya kampanye merupakan indikasi serius menuju adanya praktek korupsi di setiap lembaga pemerintah yang ada perwakilan dari partai politik.

Jangan khawatir tentang betapa rumitnya permasalahan politik di setiap pesta demokrasi, akan tetapi kita melihat sisi positif yang dilahirkan dari Pemilu ini banyak sekali pemimpin yang bermunculan dengan segala prestasi di daerahnya dalam memimpin daerahnya masing-masing, sebut saja Jokowi, Ridwan Kami, Risma, Dedi Mulyadi dan Banyak lagi di luar pulau Jawa yang tak kalah hebatnya dalam memajukan bangsa ini. Tuhan dalam banyak firman-Nya di kitab suci Al-Qur’an banyak menyerukan manusia untuk berbuat maksimal menuju kemenangan yang hakiki, tak satupun seseorang dalam kontestasi apapun menginginkan kekalahan pastinya semua ingin unggul dan menang. Apalagi politik yang DNA –nya dilahirkan untuk mencari kepentingan guna menjalankan ideologi yang dianggapnya benar dan baik untuk hidup berbangsa. Dalam sehari jika kita amati makna ajakan kemenagan terus dikumandangkan dalam lima waktu, apakah itu?!…ya adzan, adzan seruannya menuju kemenangan yaitu arti kata bahasa arab “ Hayya Alal Falah….” maknanya “ Marilah menuju kemenangan”, bahwa setiap hari kita selalu diajak untuk berprilaku menang, optimis, dan baik dalam menjalankan kehidupan dan berbangsa. Kalah itu menyakitkan kapten…..

Maka dari itu apa yang kita perbuat dalam politik dan kehidupan tak ada satupun untuk membawa diri kita pada jalan yang sulit lur, hanya saja bagaimana kita memaknai segala proses yang kita jalani setiap harinya, gimana pendapatmu lur….? apakah kita tetap hidup berdemokrasi ala hari ini yang mengedepankan proses konsistusi dan menguras tenaga untuk mendapat pemimpin yang kita yakini bisa memimpin kita dengan bijaksana, atau kita kembalikan negara ini pada kewenagan memilih pemimpin pada legislatif dan parpol sehingga kita cukup memilih parpolnya saja. Atau ada opsi lain dan solusi baru agar dapat memangkas biaya pemilu yang tak murah dan banyak melahirkan pemimpin yang korup kelak, obrolin aja lur di warung kopi terdekat jangan lupa srupuut kopi yang masih anget biar nggak tegang. Kasih pendapat kalian lur pada kolom komentar biar kita tau juga bagaimana sih solusi yang terbaik….!!

Salam Srupuuut….!!

You may also like