Jadi Kita Harus Bagaimana Lur

Jadi Kami Harus Bagaimana?3 min read

By

Salaam sruput!

Dalam rangka euforia atas hasil keputusan MK, sila meraya untuk semua. Sampai pada akhirnya, kita keluar dari persoalan sampah-sampah yang berserakan. Barangkali, sampah masih menjadi idola kita semua. Dikonsumsi dan dinikmati, pasca satu seruput gelas kopi di pagi hari. Ah, candu.

Setelah sekian lama menikmati huru-hara mereka, kita tidak lagi terjebak pada perkara ‘Cebi’ dan ‘Kempi’. Pernyataan diatas, kiranya untuk mereka yang merawat nalar. Menjadi gila ditengah ketidakwarasan itu barangkali perlu. Bagaimana tidak, hanya karena pesta demokrasi, katanya, hari raya kita hambar oleh persoalan sengketa. Hampir mirip dengan makelar tanah, berkepanjangan dan tak berkesudahan. Meski, pahlawan kesiangan telah menggelar sidang sebegitu lamanya, tetap saja dari mereka ada yang melakukan upaya de-legitimasi atas apa yang telah diputuskan secara bersama. Bangsa ini memang menyedihkan. Kita sampai tidak sadar, adalah kita; cenderung mencederai perjuangan bapak pendiri, setelah sekian lama menghabiskan waktu yang lama dibalik jeruji.

Dalam konsep hegemoni Gramsci; hegemoni sebagai sarana kultural maupun ideologis tempat kelompok dominan dalam masyarakat. Artinya, mereka cenderung menciptakan arus masyarakat baru. Sampai pada persoalan prinsipil, pun, cinta dan kasih sampai direnggut. Loh, kok begitu lur? Tidak. Kita tidak menyebut mereka yang menikmati hari raya tidak dengan cinta. Saat Islam hadir sebagai agama yang damai dan penuh kasih, mengapa sang pemeluk cenderung bengis dan sadis? Barangkali, Tuhan menciptakan dua tangan untuk baku hantam; entah di media, atau nyata. Menyedihkan bukan? Kita dipaksa untuk begitu perduli terhadap miringnya praktik demokrasi. Kita semua melupa, adalah beda pilihan tetap saudara.

Dewasa ini, fenomena Islamfobia; kekerasan terhadap minoritas dan imigran yang terjadi di AS, Inggris dan berbagai negara Eropa belakangan ini menunjukan bahwa kekuasaan dan praktik demokrasi dinarasikan oleh elit kekuasaan. Hal ini juga dialami Indonesia dengan konstelasi politik nasional yang diikuti dengan narasi-narasi politik identitas (rasisme, fanatisme, antisisme). Kerapkali, kita sebagai masyarakat kelas bawah menjadi korban polarisasi oleh penguasa yang dijadikan sebagai wilayah perebutan dan menjadi stimulant lenggangnya kekuasaan. Sejahtera itu utopis!

Antara Islam dan kebudayaan Arab adalah dua kenyataan berbeda. Islam adalah ajaran yang mempunyai idealitas pembebasan. Sementara, kebudayaan Arab adalah realitas sosiologis, hasil produk ekonomi-politik. Dalam pemahaman tegas inilah pembicaraan soal Islam dan kebudayaan semestinya dimulai. Sebab, jika masih ada asumsi produk sosial Arab adalah sama dengan ajaran Islam, maka pembahasan mengenai otentitas Islam, dalam konteks pembaruan pemikiran, barangkali tidak akan pernah beranjak kearah pemikiran kritis.

Salah satu tokoh pemikir Islam yang layak diberi perhatian dalam hal ini antara lain; Hasan Hanafi, Ali Syariati, Ashgar Ali Engginer. Dalam rangka menemukan otentitas Islam ini, tokoh-tokoh diatas mencoba menawarkan pemahaman-pemahaman seputar wacana ke-Islaman yang cenderung menggunakan agama sebagai kekuatan perlawanan. Berangkat dari kenyataan bahwa Islam sebagai agama pembebas telah mengalami dekadensi ilmu pengetahuan dan praktik politik selama beberapa abad.

Lucunya, Islam digunakan sebagai media untuk melawan hanya momentum-momentum tertentu saja. Selebihnya, kita percaya terhadap dogma Tuhan bahwa kemiskinan adalah takdir. Selesai. Perduli terhadap kemiskinan? Melirik wacana enclosure atas nama pembangunan? Mungkin, itu semua dilihat hanya karena kontestasi politik. Kejam? Tidak, kalo kita mau berpikir. Pada akhirnya, kita menemukan sebuah konklusi; lebih baik miskin tapi damai, daripada melawan hanya untuk kepentingan. Kadang, realitas bisa sejahat itu dengan kita!

Sebetulnya, kita semua tidak perlu nasihat dan seutas kalimat menggurui dari siapapun. Kita hanya perlu merawat nalar, bukannya menjadi gila adalah pilihan? Bukannya perubahan terjadi karena orang gila? Yang kita butuhkan bukan angka tiga; persatuan Indonesia bak nasihat-nasihat kader akar rumput yang seolah paling politis diantara kita, kita hanya butuh kesadaran akan pentingnya hidup bersama. Toh, jika mati kita tidak jalan sendiri? Guyon, jangan serius!

Pada akhirnya, ini semua hanya persoalan dapur agar tetap ngebul. Kita terlalu larut dan sangat menguras tenaga untuk konflik horisontal, sampai lupa dengan hubungan vertikal. Untuk masyarakat sumbu pendek, waktu dan tempat dipersilakan untuk cacian hangatnya.

Salam srrupuut!

You may also like