kamustra politik

Kamasutra Politik5 min read

By

Salam sruput!

Gini lur, dalam tradisi India ada dongeng yang biasa dipakai untuk menggambarkan kekacauan dunia. Gini ceritanya:

Dahulu kala hiduplah seekor kucing liar dan tikus di sebuah pohon yang rindang. Si tikus tinggal di dalam sebuah lubang di antara akar-akar pohon. Sementara si kucing tinggal di antara dedaunan dan cabang-cabang pohon. Biasanya, si kucing memangsa tikus-tikus atau binatang kecil lainnya yang sempat diterkamnya. Untungnya, si tikus penghuni pohon itu selalu saja dapat menghindar dari keganasan si kucing. Namun tentu saja ia hidup dalam bayang-bayang ancaman si kucing.

Nah suatu hari, seorang pemburu memasang perangkap di bawah pohon tempat tinggal kedua binatang itu. Malam harinya tertangkaplah si kucing di situ. Ia menjerit dan meminta pertolongan supaya bisa keluar dari perangkap itu. Si tikus yang selama ini merasa dihantui kucing, tentu sangat senang sekali melihat penderitaan musuhnya itu. Si tikus merasa bahaya dan ancaman sudah hilang, hingga bisa berjalan bebas.

Tiba-tiba nih lur, si tikus dikagetkan dengan ancaman lain yang muncul dari dua musuh sekaligus. Dari atas pohon muncul burung hantu yang siap menerjangnya. Dari tanah muncul seekor musang yang sedang mengintai dirinya. Si tikus begitu ketakutan, lalu mendekati si kucing yang ada dalam perangkap. Si tikus melobi si kucing supaya bisa bersembunyi di dalam perangkap dan berlindung di balik si kucing. Sebagai imbalannya, ia akan membalas kebaikan si kucing dengan menggali lubang di tanah untuk meloloskan diri dari perangkap. Keduanya sepakat. Keduanya akhirnya bisa selamat dari mau. (Konrad Kebung: 2011)

Nah lur, dongeng di atas bisa dipakai untuk memberikan makna atas pertemuan Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto di MRT beberapa waktu lalu, pasca keduanya bertarung di Pilpres 2019. Dengan dongeng itu, pertemuan yang menuai kontroversi itu dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu negatif atau positif.

Maya
Maya artinya penipuan, ilusi atau perbuatan licik. Dalam dunia diplomasi dan bahkan politik, istilah ini berarti penggunaan topeng moral atau agama demi mencapai tujuan diplomasi atau politik. Jadi lur, kalau kita biasa sebut ‘dunia maya’ untuk kehidupan di internet, maka artinya itu dunia yang penuh penipuan.

Sebagian pendukung Prabowo di Pilpres 2019 kecewa dengan pertemuan Jokwi-Prabowo itu. Sebut saja misalnya Persaudaraan Alumni (PA) 212. Intinya mereka menilai Prabowo tidak konsisten. PA 212 bahkan berbalik menyerang Prabowo dengan menuding tidak beradab kepada para ulama. Sebagai bentuk luapan kekecewaan, PA 212 menyatakan tidak lagi tunduk kepada Prabowo, melainkan kembali kepada komando Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab.

Secara awam, kekecewaan seperti itu cukup beralasan. Mereka mungkin merasa hanya dipermainkan dan diperalat oleh Prabowo demi kepentingan politik sesaatnya. Mereka sudah habis-habisan berjuang untuk memenangkan Prabowo di Pilpres 2019. Maka ketika Prabowo memutuskan untuk bertemu dengan Jokowi, mereka merasa dikhianati. Bisa jadi dalam pandangan mereka sekarang, di Pilpres lalu Prabowo hanya menggunakan topeng dan berbuat kelicikan (maya) terhadap mereka. Prabowo mendekati mereka hanya untuk memenangkan Pilpres.

Namun setidaknya nih lur, ada satu fakta telah terungkap dengan adanya pertemuan yang menuai pro-kontra tersebut. Bahwa mereka yang kecewa atas pertemuan itu, termasuk PA 212, ternyata tidak sepenuh hati mendukung Prabowo di Pilpres 2019 lalu. Mereka bukanlah loyalis Prabowo. Mereka mendukung Prabowo bukan karena suka kepadanya, melainkan karena tidak suka kepada Jokowi.

Dari perspektif negatif ini, dengan dongeng di atas, pertemuan Jokowi dan Prabowo dapat dipandang sebagai pertemuan yang oportunis. Pertemuan itu dapat dinilai hanya untuk menyelamatkan kepentingan Prabowo. Kepentingan apa tuh? Tanya aja sama beliau langsung lur.

Saman
Secara bahasa nih lur, saman berarti musik atau melodi. Saman dapat diartikan sebagai rekonsiliasi dan negosiasi. Saman menggunakan pendekatan damai, layaknya pawang ular yang menenangkan ular dengan melodinya. Lawan didekati dengan sikap damai dan mau bersatu, demi menghindari kerusakan.

Dalam perspektif positif, pertemuan Jokowi dengan Prabowo dapat dimaknai sebagai pilihan politik persatuan. Pertemuan itu dinilai sebagai langkah bijak untuk menyudahi polarisasi yang begitu tajam di tengah masyarakat sebagai akibat dari Pilpres. Dari sisi Prabowo, pertemuan itu justru menunjukkan sikap sebagai seorang negarawan sejati yang hanya ingin rakyat Indonesia bersatu. Pertemuan itu bukti bahwa Prabowo telah move on atau legawa atas hasil Pilpres 2019 lalu.

Dengan dongeng di atas lagi nih lur, pertemuan Jokowi-Prabowo dapat dipandang sebagai isyarat bahwa bangsa Indonesia harus bersatu menghalau setiap rintangan yang menghadang demi tercapainya cita-cita bersama. Tanpa persatuan, bangsa kita akan lemah dan mudah dikalahkan oleh bangsa yang lain. Persaiangan global antar negara layaknya peperangan perebutan kemerdekaan yang mengharuskan adanya persatuan dan kerja sama.

Kamasutra
Kama dalam mitologi India adalah dewa cinta dalam Hinduisme. Kama dapat berarti kenikmatan dan cinta. Sedangkan sutra berarti peraturan atau buku hukum. Umumnya ajaran kama dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan perkawinan. Namun secara filosofis, mestinya ajaran cinta (kama) dapat masuk ke dalam setiap aspek kehidupan, termasuk kehidupan politik. Jadi kalau denger ‘kamasutra’ jangan ngeres melulu ya lur pikirannya.

Pertemuan Jokowi dan Prabowo setelah keduanya bersaing berebut tahta tertinggi di negeri ini bukanlah kali pertama. Sejak Pilpres 2014 lalu, mereka berdua tercatat sudah beberapa kali melakukan pertemuan. Jadi pertemuan di MRT hari Sabtu (13/7) kemarin sebenarnya bukanlah bid’ah yang mengada-ada dalam dunia politik Indonesia. Biasa saja lur.

Semua rangkaian pertemuan antara kedua petarung politik ini harus dibaca secara utuh, agar dapat menemukan maksud yang ingin mereka sampaikan. Dalam pembacaan saya, mereka berdua ingin menyampaikan kepada rakyat Indonesia, bahwa politik kekuasaan itu bukanlah segala-galanya. Politik lima tahunan bukanlah sebuah pertarungan antara hak dan batil atau jihad. Ia hanyalah kontestasi biasa, layaknya perlombaan makan kerupuk setiap 17 Agustus.

Maka lur, pertarungan politik tidak semestinya dibangun atas dasar kebencian. Kontestasi politik harus diletakkan dalam paradigma cinta kepada bangsa dan negara. Kita harus membangun politik yang berbasis cinta, bukan berbasis kebencian. Karena bangsa ini hanya akan maju jika semuanya saling mencintai, bukan saling membenci.

Alhasil nih lur, pertemuan Jokowi-Prabowo dapat dijadikan sebagai lembaran sejarah yang sangat penting untuk menuliskan buku hukum politik cinta di negeri ini, alias kamasutra politik Indonesia.

Salam srupuut!

You may also like