Pasar Milik Siapa Lur

Pasar Milik Siapa?4 min read

By

Salam Srupuut!

Gmn kabar kaliar lur, Baikan pastinya?

Andai saja Dilan dan Milea tidak pernah bertemu, tidak ada hubungan mutualitatif dalam dunia perbucinan. Dilan suka Milea, Milea suka Dilan, selesai. Sedang kita, halu dengan quotes-quotes candu model “Dilan, kamu dimana? Aku rindu”. Di lain hal dan keadaan, kita tidak benar-benar diuntungkan antara Negara dan rakyat. Tidak ada kata mutualitas disana. Negara suka aku. Aku? Tanya saja pada rumput yang bergoyang.

Dulur jangan berharap ada feed cinta untuk kali ini. Ndak, ini tidak hanya sebatas kontak fisik dan batin antar dua insan. Lebih dari itu, kita akan melirik pandangan kaum merkantilis dalam melihat cara kerja ekonomi.  Kerapkali kita tidak benar-benar tahu, bagaimana cara kerja ekonomi, mengapa kemiskinan dan ketimpangan bias terus terjadi.

Gelombang Reformasi memang telah mengubah wajah politik dan demokratisasi yang selama 32 tahun telah disumbat rezim Orde Baru (Orba). Muncul berbagai isu dan wacana yang menjadi lahan kondusif untuk menguatnya perkembangan gerakan sosial. Isu yang sebelumnya dianggap tabu dibicarakan mulai naik ke permukaan, mulai dari isu kesejahteraan, kebebasan, kesetaraan, hingga isu keberlangsungan layanan alam.

Namun, pasca lebih dari satu dekade Reformasi, kekalahan dan kemunduran gerakan sosial mulai tampak. Wajah demokrasi yang awalnya terbuka, kini dibajak kembali oleh elit-elit yang kemudian dengan sengaja melumpuhkan dan membuat narasi diskriminatif soal gerakan sosial.

Di sisi lain, akumulasi kapitalis terus berjalan dan memproduksi pemiskinan, ketidaksetaraan, kehancuran ekologis dan tergerusnya sumberdaya bersama (the commons). Sebentar lagi, dulur tak kasih indikator-indikator kunci dasar ekonomi.

Premis pertama, kekayaan 359 orang terkaya di dunia setara dengan 2,9 milyar orang-orang termiskin di dunia. Terdapat 5 milyar penduduk bumi dan kita hanya dapat mengambil sebanyak 359 orang yang terbilang kaya, di mana perkiraan kekayaan mereka setara dengan jumlah kekayaan separuh lebih jumlah penduduk bumi.

Kedua, total kekayaan 3 orang terkaya di dunia bila digabungkan sama dengan GDP 48 negara termiskin. Ketiga, untuk mengatasi problematika penduduk dunia dalam ketersediaan kebutuhan dasarnya (makanan, air, pendidikan, kesehatan) dan untuk mengatasi kelaparan, kekurangan gizi, dan wabah penyakit, yang dibutuhkan adalah 4% dari akumulasi kekayaan dari 255 orang terkaya di dunia.

Terakhir, untuk memenuhi kebutuhan dunia, kesehatan dan makanan, keseluruhan dibutuhkan $13 milyar. Jumlah ini setara dengan total pengeluaran pembelian parfum di Eropa. Bagaimana lur? Apa jiwa Missqueen sudah berontak? Tenang-tenang dan tetap berdiam diri di sana. Tak perlu geram, kembali ke feed bucan-bucin soal D.O.T.S. Tentara gagah dan dokter cantik sudah menunggu disana!

Fakta di atas menunjukan, terdapat sebuah kontradiksi dimana ditengah-tengah kesejahteraan, kemakmuran, dan kekayaan, terdapat reproduksi kemiskinan, kesengsaraan yang terus menerus terjadi. Pemikir merkantilis beranggapan bahwa kekayaan itu adalah untuk melayani kekuasaan. Dan bahwa tujuan meningkatkan kekayaan itu adalah selaras dengan tujuan meningkatkan kekuasaan, bahkan, hamper tidak dapat dibedakan satu sama lain.

Dalam hal kebijakan praktis, kaum merkantilis juga melihat hubungan yang erat antara kekuasaan dengan kekayaan. Negara adalah kekuasaan. Negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kekayaan, hendaklah menggunakan kekuasaan untuk mengatur industri dan perdagangan. Negara harus memberikan dukungan politik dan ekonomi untuk kebijakan pasar.

Doktrin relasi kuasa semakin dilihat oleh pemikir merkantilis dalam menentukan arah pasar dan proses produksi. Padahal, setiap masyarakat, apapun terhadap perkembangan historisnya, berada pada landasan ekonomi (homo economicus). Artinya, mode produksi terdiri dari dua komponen. Pertama adalah ‘kekuatan produksi’ atau pengaturan fisik dari kegiatan ekonomi. Yang kedua adalah hubungan sosial dan produksi, atau kelengkapan mutlak manusia bahwa orang-orang harus berhubungan satu sama lain untuk melaksanakan kegiatan ekonomi.

Tetapi, masyarakat itu bukan hanya terdiri dari struktur ekonomi saja. Berada diatasnya adalah sebagai struktur super atau kompleks hokum, politik, keagamaan, esstetika, dan lembaga-lembaga lainnya. Penentuan ini mungkin bekerja sebagai berikut; perangkat hubungan-hubungan sosial paling mendasar yang lahir dari proses produksi adalah struktur kelas. Atau mungkin, lebih tepatnya pembagian masyarakat kedalam kelas si kaya yang berkuasa, dan kelas si miskin yang dieksploitir.

Di bawah mode produksi kapitalis, analisis kita sampai pada pembagian antara borjuis dan proletar. Kelas borjuis memiliki alat produksi, mengarahkan (direct) proses produksi dan memetik laba daripadanya. Kelas proletar adalah buruh upah yang memberikan tenaga kerja actual, tetapi tidak menerima penuh imbalannya.

Berdasarkan hubungan produksi ini, kita semua tentunya mengharapkan Negara, masyarakat pendeknya semua struktur itu beroperasi melayani kelas borjuis dan membantu para buruh tetap dibawah. Misal, politikus dan polisi akan menindas ketidakpuasan buruh, dan para agamawan akan mendoktrinisasi ideologi kepada masyarakat bahwa mereka tidak ditindas. Meyakinkan dan memberi jaminan keselamatan kepada buruh untuk jaminan kebahagiaan di masa depan (akheeeeraaaat).

Dalam pandangan yang kompleks tentang hubungan antara kekuatan ekonomi dan politik, dalam tahap vital perkembangan suatu sistem ekonomi, pengaturan politik mendukung pengaturan ekonomi. Kekuatan ekonomi dan politik saling bertentangan, dan konflik ini hanya akhirnya membawa kepada kehancuran sistem politik, dan kehancuran sistem ekonomi. Pada setiap waktu, hubungan fungsional antara kekuatan ekonomi dan politik itu tergantung pada tahap perkembangan masyarakat tersebut.

Sejauh ini, melihat tujuan ekonomi dan politik hamper berkaitan erat, kita harus cenderung melihat kembali kepada kaum merkantilis modern. Membatasi peranan Negara yang tidak lain hanya menunjang hubungan kelas yang timbul dari kondisi produksi. Tidak melihat masyarakat sebagai struktur ekonomi terendah yaitu komoditas. Proses produksi bukan hanya soal motif profit. Sampai pada sebuah kesimpulan, adalah kita (human) angka-angka yang berjalan!

Salam Serupuuuuuuut!